Angkringan adalah sebuah ruang yang diperuntukkan bagi esai-esai ringan yang tidak bertentangan dengan visi dan misi
INSIST. Sebuah ruang yang menyerupai saat untuk jeda, bernapas, dan istirahat sejenak, dari berbagai rutinitas yang
mungkin membuat kita semua lelah. Ruang ini diperuntukkan bagi siapa saja yang punya pengalaman sederhana, menarik,
dan bisa dijadikan bahan perenungan bersama.
GEGER GEMPA DINIHARI
ketika kita belum sepenuhnya terbangun
Belum selesai orang-orang membicarakan dan mengagumi Mbah Marijan dari Merapi sebagai aikon orang waras di tengah-tengah ketidakwarasan banyak orang, tiba-tiba, pada hari Sabtu, 27 Mei 2006 pukul 05:54WIB, gempa berkekuatan 5,9 skala Richter (sumber: BMG Indonesia) mengguncang perasaan umat manusia di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah. Ribuan korban jiwa melayang dalam peristiwa tersebut, ribuan lainnya mengalami luka-luka, dan ratusan ribu terpaksa mengungsi karena tempat tinggalnya rata dengan tanah. Kerusakan paling parah terjadi di sebagian wilayah Kabupaten Bantul, DIY, dan sebagian wilayah Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.
Persiapan pemerintah daerah Kabupaten Sleman menyambut muntahan lahar dan wedhus gembel (muntahan awan panas) Gunung Merapi lumayan sibuk, mulai dari menyiapkan tempat dan jalur pengungsian, tenda-tenda pengungsi, fasilitas pelayanan kesehatan, dan sebagainya. Tak terkecual berbagai propaganda untuk merayu, membujuk warga masyarakat yang tinggal di seputar Merapi agar mengungsi di tempat yang telah disiapkan. Juga, tak ketinggalan para aktivis berbagai organisasi terlibat menyongsong perhelatan ini. Belum lagi usai semua silang-pendapat soal warga yang ngeyel tidak mau mengungsi karena merasa lebih penting merawat kebun dan hewan piaraannya, yang lebih mendengarkan Mbah Marijan katimbang Guvernur Daerah Istimewa Yogyakarta atau para pakar; juga perbincangan seru tentang Mbah Marijan sendiri yang harus menghadapi wacana dari para intelektual pakar bencana --wacana yang konon dihembuskan karena ada bisik-bisik sediaan anggaran Rp 400 milyar-- semua itu tiba-tiba ambyar, runtuh, akibat geger menjelang subuh oleh gempa tektonik yang mampu meluluh-lantakkan perasaan. Dinihari itu, manusia tunggang-langgang, lari berhamburan dengan segenap ketidaktahuan, dengan seluruh kesimpang-siuran, mosaik potret-potret muka bingung bagaikan anak ayam kehilangan induk.
Dari Gunung Merapi perhatian pindah ke Laut Selatan. Saat itu, tanggapan terhadap gempa rata-rata sama, tak ada pembedaan antara kaum intelektual, rohaniawan, polisi, atau pejabat, dengan orang awam warga masyarakat biasa. Selain bingung, apa yang dilakukan adalah mengontak teman, saudara, kolega, untuk minta bantuan. Hampir dua hari tidak ada fenomena lain. Baru setelah dua hari kemudian, mulai ada pemikiran-pemikiran lain. Mulai ada lontaran tentang apa dampak gempa, apa implikasinya. Lalu, pernyataan para pejabat pemerintah pusat yang melebihi goncangannya melebihi skala Richter gempa sesungguhnya. Mulai ada pemikiran “...nampaknya gempa ini malah bisa melancarkan pemerintah untuk bikin utang baru lagi”. Semua bermaksud baik, semua orang ingin menolong. Mulai hingar-bingar, muncul plakat-plakat bertuliskan "POSKO Bantuan Gempa...", "POSKO Kemanusiaan...", "Peduli Bencana...", dan semacamnya. Mulai berdiri tenda-tenda bagus, berkibar bendera macam-macam, mobil dengan tempelan stiker macam-macam pula. Semua punya dalih “kemanusiaan”.
Tiga hari pasca gempa, hujan terus menerus, mengiringi gaduh suara-suara: “...di sana belum tersentuh bantuan!"; "...di sini kekurangan tenda!" --suara-suara yang terdengar selalu diawali dengan "belum" atau "kurang". Padahal, setiap hari pemandangan adalah bertronton-tronton bantuan menuju ke tempat-tempat bencana. Di jalan raya, bahkan sampi di jalan-jalan kecil masuk desa-desa, mulai ada cegatan-cegatan yang mengatasnamakan "POSKO korban bencana...". Mereka stop mobil atau motor yang lewat untuk dimintai sumbangan. Mulai banyak orang gelisah, "...kenapa masyarakat mulai punya mental pengemis?". Tiba-tiba di daerah bencana malah kebanjiran mie instan, biskuit kering, bergelimang berbotol-botol air mineral. Yang jelas ada banyak fenomena antara yang bermaksud menolong dengan masyarakat yang terkena gempa.
Pada perkembangan berikutnya, lambat laun suasana “kemanusiaan” mulai berubah mengarah pada pandangan bahwa gempa adalah "peluang" untuk bisnis, untuk mencari keuntungan pribadi, untuk menumpuk apa saja yang semestinya dibagikan. Bahkan, pemerintah sendiri juga melihat bencana gempa ini sebagai peluang untuk menambah utang luar negeri baru lagi.
Yang memprihatinkan, ternyata tidak terlalu banyak orang yang bisa melihat bahwa bencana gempa juga merupakan peluang untuk menata kembali sistem kehidupan masyarakat yang lebih baik, lebih adil dan bermartabat. (Toto Rahardjo)