TELADAN HIDUP KEPEDULIAN SOSIAL
NGADIWIYONO:"Menolong orang lain adalah juga menolong diri sendiri"
Adalah hal lumrah dan wajar jika mereka yang berkelebihan dan berkemampuan tertentu memberikan bantuan dan pertolongan kepada mereka yang berkekurangan dan tidak mampu. Ini terjadi dimana saja sepanjang sejarah kemanusiaan kita. Tetapi, menjadi sesuatu yang unik dan menarik jika justru yang memberi bantuan itu adalah mereka yang sebenarnya juga tidak terlalu berkelebihan apapun dalam hal pemilikan harta dan kekayaan ragawi. Pada tingkat tertentu, orang semacam itu malah bisa saja dianggap 'aneh' dan agak kurang waras' oleh pandangan umum yang berkuasa dalam peradaban modern kita selama ini.
Adalah seorang Pak Ngadiwiyono yang menentang arus pendapat dan anggapan umum tersebut. Seminggu setelah gempa-bumi dahsyat melanda Jogyakarta dan sekitarnya pada tanggal 26 Mei 2004, Lurah Desa Durensari ini yang terletak di Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah --persis di lereng puncak Tanah Perdikan (Tanah Merdeka) Bukit Menoreh yang legendaris itu-- segera bertindak. Dia mengumpulkan warga desanya dan menyatakan pikiran dan keinginannya untuk menyumbang sesuatu membantu para korban bencana di daerah tetangga mereka. Warga desanya menyambut dan mendukung gagasan Pak Lurah. Mereka mulai mengorganisir diri untuk keperluan tersebut. Karena desa mereka melimpah dengan pepohonan bambu yang bermutu bagus, dan sebagian dari mereka memang adalah tukang dan pengrajin bambu yang trampil, maka diputuskan untuk terutama menyumbang bambu sebagai bahan bangunan dan tenaga mereka sendiri untuk membantu korban bencana di Kabupaten Bantul dan Klaten. Walhasil, sejak minggu kedua setelah bencana, pada setiap akhir pekan (Sabtu dan Minggu), rombongan warga Durensari terlihat menumpang truk-truk tua penuh bambu menuju beberapa desa di Bantul dan Klaten. Mereka kesana secara bergiliran dalam kelompok-kelompok per Rukun Tetangga. Mereka juga membawa berbagai jenis peralatan kerja (parang, ketam, gergaji, dsb), bekal bahan makanan untuk dua hari, dan para kaum perempuan mereka untuk mengelola dapur umum.
Selama bulan-bulan pertama pasca-bencana, pemandangan semacam itu menjadi hal biasa di Jogyakarta dan sekitarnya. Ribuan warga biasa dari berbagai penjuru melakukan hal yang sama secara spontan. Tetapi, rombongan warga Durensari menjadi unik karena mereka sejak awal telah menetapkan dan memilih desa-desa tertentu yang mereka datangi secara berkala-tetap setiap minggu. Sangat terorganisir dan tidak sporadik. Dasar pemilihan desa-desa tersebut juga dilakukan lebih secara naluriah, bukan atas dasar tolok-tolok ukur yang telah dirancang terlebih dahulu. Mereka lebih mendasari keputusan mereka pada kesediaan warga desa korban menerima kehadiran mereka secara terbuka dan spontan, sehingga mereka merasa nyaman bekerja disana. Demikianlah, mereka terus mengunjungi tetap 5 desa di Kabupaten Bantul dan 1 desa di Kabupaten Klaten, selama lebih dari enam bulan. Sampai sekarang pun mereka masih sering berkunjung, tapi kali ini lebih untuk melihat-lihat saja dan memperdekat hubungan dengan warga setempat, para korban bencana yang pernah mereka bantu. Semuanya berjalan alamiah.
Setelah enam bulan sejak mulai, beberapa orang anggota Tim Relawan Kemanusiaan (TRK) INSIST, khususnya dari Pos Pelayanan SALAM (Sanggar Anak Alam), membantu orang-orang Durensari itu menghitung jumlah bantuan mereka. Ternyata, di 6 desa tadi, mereka telah membantu membangun 32 unit rumah, 3 unit 'sekolah darurat', 1 perpustakaan terbuka untuk anak-anak, 1 lumbung pangan, 1 musholla, dan 1 Balai Rembug Warga (lihat foto: balai rembug warga bantuan warga Durensari di Sanggrahan, Bantul; dan warga Durensari ketika membangun rumah pendduk di Kragilan, Klaten). Jika dinilai dengan uang, total sumbangan mereka tersebut (termasuk biaya-biaya angkutan dan kerja, serta nilai penghasilan dari meninggalkan pekerjaan tetap mereka sendiri di Durensari), maka diperoleh angka sekitar Rp 200 juta. Para warga Durensari itu sempat terkejut sendiri melihat hasil perhitungan ini, tetapi kemudian hanya tersenyum-senyum dengan raut wajah lega. Hasil perhitungan itu sama sekali tidak mengusik niat awal mereka: membantu para korban bencana tanpa mengharapkan imbalan apapun. Bahkan sama sekali tidak terpikirkan oleh mereka sebelumnya bahwa semua bantuan mereka itu dapat dihitung nilainya dalam angka-angka. Para relawan TRK INSIST melakukan perhitungan tersebut sebagai dari proses pendataan saja.
"Ya, sudah", kata Pak Ngadiwiyono setelah para relawan TRK INSIST menyajikan hasil perhitungan tersebut kepada warga Durensari. "Setidaknya kami tahu saja bahwa bantuan yang kami berikan bernilai sejumlah itu". Lelaki kurus legam itu kemudian mengangkat kedua tangannya dan mengucap syukur kepada Tuhan dengan suara lirih dalam bahasa Jawa.
Dia memang lurah, seorang pemimpin di desanya. Namun jangan bayangkan seperti kebanyakan lurah atau kepala desa di banyak tempat lain di Indonesia. Sehari-harinya, lelaki separuh baya ini adalah seorang petani biasa. Pekerjaan tetap dan penghasilan utamanya adalah dari menyuling nira kelapa untuk diolah menjadi gula-merah tradisional (lihat foto). Karena itu, sehari-hari dia tampil sebagaimana lazimnya seorang petani dan penyuling nira: bertelanjang kaki dan dada dengan sabit di tangan dan tali-tali serta tabung-tabung bambu di pinggang. Para warga Durensari mengakui bahwa mereka sangat jarang sekali melihat lurah mereka berpakaian seragam dinas Kepala Desa. Dia juga datang ke Kantor atau Balai Desa seperlunya saja. Pekerjaan adminsitrasi rutin di kantor itu dipercayakannya kepada Carik (Sekretaris Desa) yang lebih muda dan berpendidikan formal lebih tinggi katimbang dirinya sendiri. Di rumahnya yang sederhana dan berasitektur asli pedesaan Jawa, dia juga bertenak kambing etawa dan ayam kampung.
"Semuanya semata-mata digerakkan oleh naluri saya saja", katanya menjawab pertanyaan alasan utamanya menggerakkan warga Durensari membantu korban bencana di Bantul dan Klaten. "Tidak ada pengaruh dari siapapun, kecuali saya ingat petuah orangtua saya dulu bahwa kita wajib membantu mereka yang terkena musibah, seberapa pun yang kita mampu. Karena, menolong orang lain itu sebenarnya menolong diri kita sendiri juga. Sekarang kami menolong mereka. Lain kali, kalau kami yang tertimpa musibah, merekalah atau orang lan lagi yang akan menolong kami. Bukan jumlahnya yang penting, tetapi niat kita sendiri". Diapun tak pernah berpikir untuk menerima imbalan apapun. "Keterlaluan kalau mengharapkan imbalan dari orang yang sedang kesusahan", tegasnya.
Pernyataan sederhana itu benar-benar menohok. Lihatlah, bagaimana seorang petani desa yang ugahari, terlepas dari apapun jabatan resminya, melakukan suatu karya kemanusiaan yang belum tentu mampu dan mau dilakukan oleh mereka yang jauh lebih berkecukupan dan berpendidikan lebih tinggi? Herbert Marcuse, salah seorang tokoh Sekolah Frankfurt yang sohor itu, pernah mengatakan bahwa mereka yang menikmati kekayaan melimpah tanpa peduli kepada mereka yang menderita serba kekurangan, pada dasarnya melakukan 'kecabulan sosial' (social pornography). Pak Ngadiwiyono yang tidak pernah membaca Marcuse itu memberi teladan nyata sambil mengusik 'kemaluan sosial' masyarakat kita saat ini.